Minggu, 18 November 2012

Resensi Novel Sebelas Patriot


JIWA PATRIOT
                                                                                                                         
Judul Buku           :  Sebelas Patriot        
Pengarang            :  Andrea Hirata
Penerbit               :  Bentang Pustaka,Yogyakarta
Tahun                   :  2011,Cetakan Pertama
Jumlah Halaman   :  xii + 112 halaman
Harga                  :  Rp 39.000
ISBN                  :  978-602-8811-52-1
Resensator          :  Muhammad Yoga

Andrea Hirata, lahir di Belitong. Andrea berpendidikan ekonomi dari Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis dan SheffieldHallam University, United Kingdom.
Cerita ini dimulai dari masa kecil Ikal, yang tidak lain adalahAndrea Hirata sendiri, ketika di pulau Belitong yang merupakan pulau yang amat kaya akan tambang timah. Cerita dimulai dari keingin tahuan Ikal terhadap ayahnya yang misterius, yang tak banyak berbicara. Pandangan Ikal terhadap ayahnya berubah ketika ia menemukan foto misterius di dalam album foto tua dirumahnya, foto yang sudah tua itu menggambarkan  seseorang yang memegang  piala tetapi wajahnya menujukkan kesedihan. Rasa penasaranmembuat Ikal menlalu menannyakan foto tua itu kepada teman seangkatan ayahnya. Kemudian beliau menceritakan kisah di balik foto itu. Dahulu ayah Ikal adalah seorang pemain bola yang sangat handal, bekerja sama dengan kedua saudaranya, dan dikenal sebagai segitiga  maut di lapangan, sayangnya pihak Belanda pada saat itu masih menguasai pulau Belitong dan tidak suka pada sikap dan perbuatan ketiga bersaudara itu. Van Holden, sebagai utusan VOC di Indonesia, memahami bahwa keberadaannya di negeri ini berkaitan juga dengan politisi utusan ratu Belanda dan setiap aspek. Sepak bola adalah salah satu politik yang digunakannya untuk mencapai satu tujuan yaitu memprkokoh pendudukan Belanda di Indonesia dan selama ini tak ada yang berani mengalahkan tim sepakbola gabungan Belanda. Maka, kepopuleran tiga bersaudara itu dapat mengancamnya.
Van Holden melakukan berbagai cara, dari melarang ketiga saudara dan pelatih itu bermain sepak bola sampai mengurung dan memberlakukan hukuman kerja rodi. Setelah kembali dari pulau buangan, tiga saudara kembali bekerja di parit tambang . kemudian, ada kompetisi bola antara tim Belanda melawan para kuli parit tambang yaitu Sebelas patriot dan termasuk di dalamnya tiga bersaudara.
Pertandingan itu dimenangkan oleh tim parit tambang dengan skor 1-0. Gol satu-satunya dicetak oleh si bungsu, ayah Ikal. Ribuan penonton menyerbu lapangan dan si Bungsu, Teriakan dengan penuh semangat dan tanpa henti sampai-sampai Belanda berang mendengarnya. Usai pertandingan, pelatih dan tiga bersaudara diangkut ke tangsi. Mereka dikurung selama seminggu. Kemudian, ayah Ikal pulang dengan tempurung kaki kiri yang sudah hancur dan cacat permanen. Sejak saat itu, ia tidak bisa bermain sepak bola lagi. Kecintaan Ayahnya pada sepak bola dan PSSI, membuat Ikal bertekad untuk menjadi pemain sepakbola dan bergabung dengan tim PSSI.
Mengetahui begitu besar peran dan pengorbanan ayahnya, Ikal bertekad meneruskan jejak ayahnya dan berkali-kali Ikal mencoba untuk menjadi salah satu pemain sepakbola junior PSSI, namun tidak pernah berhasil. Namun kata-kata motivasi dari ayahnya membuatnya kembali bangkit, “Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya.”. Menyadari ketidakmungkinan menjadi pemain sepakbola, membuat Ikal puas hanya menjadi pendukung sepakbola terutama PSSI. Hal yang menarik dari cerita ini adalah mendengarkan tiga buah lagu yang lirik dan aransemen musiknya diciptakan oleh Andrea Hirata sendiri. Lagu-lagu tersebut berjudul “PSSI Aku Datang”, “Sebelas Patriot” dan “Sorak Indonesia”
. Novel ini menggunakan sudut pandang pada orang pertama “Aku” sebagai karakter utama, sehingga memungkinkan pembaca agar lebih mudah masuk ke dalam pikiran sang pengarang, sehingga pembaca bisa merasakan semua emosi yang ada pada tokoh utama. Novel ini mengunakan alur campuran. Setting yang dipakai pada novel kali ini adalah Belitong, Palembang dan Eropa. . Novel  ini menggunakan gaya bahasa yang mudah untuk dimengerti sehingga pembaca tidak memerlukan konsentrasi yang tinggi untuk mengetahui jalan ceritanya. Di Novel ini terdapat beberapa kalimat yang tidak di mengerti oleh masyarakat sehingga membuat bingung para pembacanya. Sampul yang dipilihpun unik sehingga menarik perhatian.
Dibalik semua kekurangan dan kelebihan novel ini, novel ini layak dibaca semua kalangan terutama untuk para pemuda Indonesia untuk berani memperjuangkan mimpi-mimpi yang terukir dalam jiwa demi kemajuan bersama dan memajukan Indonesia dan tetap bersemangat meskipun yang kita cita-citakan tidak terwujud, karena Tuhan memiliki jalan yang lebih baik dari jalan yang kita rencanakan.

1 komentar: