Rabu, 26 September 2012

contoh resensi


Cinta Negeri Gingseng
Judul buku             : Kudekap Hatinya di Bawah Langit Seoul
Penulis                   : Mahmud Jauhari Ali
Penerbit                 : Araska
Tahun terbit           : Mei 2012
Kota terbit             : Yogyakarta
Halaman                : 143 hlm
ISBN                     : 978-602-9072-30-3
Resensator             : Fitriani

”Selama kita satu agama, satu akidah, insya Allah kita akan bersatu dalam cinta yang abadi hingga di akhirat kelak, Oppa”, kalimat awal yang tertulis di cover depan novel karangan Mahmud Jauhari Ali,  membuat orang yang melihatnya tertarik untuk membacanya.
Kang Geun Woo tiba-tiba mendapat kabar dari pak Rimpai. Warta dari Ayah angkatnya itu menggerakkan jiwa lelaki Korea itu berusaha keras mendapatkan kembali sebuah kalung. Ya, tepatnya kalung warisan salah satu keluarga dari suku Dayak Benuaq di Kalimantan Timur. Usaha pencariannya itu membuatnya seperti petualang. Dari Samarinda dia ke Jakarta untuk mengadakan pencarian di sana. Lalu ke Hongkong dengan visi yang sama. Baginya, inilah kesempatan membalas budi baik. Dalam pikirannya, andai saja ayah angkatnya itu tak menyelematkannya di Sungai Mahakam dulu, dirinya sudah tiada di dunia ini.
Tak disangka, di Hongkong dia bertemu seorang muslimah cantik dari Ningxia—Ma Xun Quan—yang sedang bertamasya di kota itu. Awalnya Quan menyangkanya sebagai penjambret tas. Persangkaan itu membuatnya berurusan dengan pihak kepolisian Hongkong. Namun, akhirnya mereka berteman. Quan membantunya mendapatkan kalung itu. Dengan bantuan gadis itu, Geun Woo mendapatkan informasi bahwa pemakai kalung itu berangkat ke Seoul. Quan yang memang bekerja di Ibukota Korea Selatan itu memutuskan ikut dengannya.
Mereka berdua pun menginjakkan kaki di Seoul. Seiring perjalanan waktu, mereka saling suka, cinta, dan sayang. Sementara di sisi lain, Geun Woo harus berurusan hukum dengan Kim Ga Won—mantan kekasihnya—yang sangat cantik itu akan tetapi jodoh tak dapat dihindari, merekapun hidup bahagia.
Alur yang digunakan pada novel ini adalah alur campuran, dimana alur maju ditunjukkan pada saat Kang Geun Woo berpetualang mencari kalung ayah angkatnya, sedangkan alur mundur ditunjjukan pada saat Kang Guen Woo mengenang masa-masa pacaran dengan mantan pacarnya. Novel ini sangat monoton sehingga membuat pembacanya bosan, tetapi penulis dapat membuat para pembaca novel ini penasaran akan akhir cerita novel ini.sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama. Novel ini mengambil Setting di Kalimantan, Hongkong dan Seoul.
Tokoh utama novel ini adalah Kang Geun Woo, dia seorang muslim yang lupa akan kewajibannya sebagai umat muslim, tapi tak mudah patah semangat meskipun apa yang dicarinya susah untuk ditemukan. Xun Quan seorang gadis muslimah yang taat terhadap agama jatuh hati pada Kang Geun Woo.
Cover depan yang dipilih menarik perhatian orang yang melihatnya, dimana ada seorang laki – laki yang sedang kebingungan mencari sesuatu dan ada seorang wanita muslimah menggunakan Kimono tetapi menggunakan jilbab, terdapat pula kalung yang terbuat dari kayu.
Dengan seluruh kelebihan dan kekurangan novel ini, novel ini bagus untuk di baca oleh semua golongan karena dapat memotivasi kita untuk pantang menyerah, tidak melupakan kewajiban kita sebagai umat beragama.

1 komentar:

  1. Halo Mbak, salam kenal...wah nggak nyangka malam-malam "jalan" bisa nyampai sini. Ohya, ini bukan novel saya Mbak. Ini novel penulisnya Mahmud Jauhari Ali. Dan saya pernah menulis catatan kecil setelah baca di blog saya http://shabrinaws.blogspot.com/2012/06/kudekap-hatinya-di-bawah-langit-seoul.html

    BalasHapus